DORAEMON

Selasa, 01 Maret 2016

Mengapa Harus Jadi Penulis?


“Ada kebahagiaan ketika saya menulis. Hingga saya bermimpi menjadi penulis untuk mengabadiakan kebahagiaan” – Rosyidatul Munawaroh

Mengapa harus jadi penulis?
Menulis adalah cara mengekspresikan sesuatu yang paling elegan.
-          Jika kamu merasa bahagia, menulislah!
-          Jika kamu merasa bersedih, menulislah!
-          Bahkan jika kamu marah, menulislah! 
       Itu karena kamu adalah seorang PENULIS.

Penulis adalah seseorang yang paling keren. Karena dia bisa merubah dunia dengan tulisannya. Merubah mindset seseorang, juga karena tulisannya. Dengan menulis, kita dapat memberikan ide, gagasan, pendapat atas sesuatu hal. Pun kita bebas berekspresi. Berjalan-jalan menyusuri emosi diri. Dengan begitu kamu bisa mengenal diri sendiri dengan baik.  Pernah menulis buku diary? Nah itulah salah satu contoh real di mana kamu berekspresi secara elegan. kamu tidak perlu berkoar-koar agar orang lain tahu perasaan kita. 

Menulis  adalah ladang amal.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, menulis mampu merubah cara berpikir seseorang. Kita berbicara dengan orang lain melalui tulisan. Bayangkan jika tulisan kita mampu menginspirasi hingga memberikan manfaat bagi banyak orang? Tak perlu memikirkan berapa amal yang kita dapat. Karena itu bukan urusan kita. Yang terpenting adalah tulislah tulisan yang baik-baik. Agar tulisan menggiring kita kepada jalan kebaikan, bukan malah sebaliknya. Menulis ikhlas karena Allah SWT, jujur dan niat yang baik agar mampu menghasilkan tulisan yang baik pula.

Menulis adalah tanda kita hidup.
Jika kamu bukan seseorang yang terkenal, maka menulislah! Minimal orang-orang akan mengenal tulisanmu. Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita hidup. Selama jatah waktu di dunia masih Allah SWT berikan, maka menulislah! Tinggalkan sesuatu bagi orang-orang yang kita sayang, jika kelak kita meninggalkan dunia, mereka akan mengenang kita karena ada sesuatu yang kita tinggalkan. Yaitu tulisan.

Menjadi penulis berarti kamu menjadi seseorang yang sangat peka akan lingkungan sekitar bisa juga peka akan perasaan orang-orang di sekeliling. Peristiwa kecil saja mampu kita jadikan sesuatu hal yang besar, ketika kita menuliskannya. 
Contoh ketika kamu melihat seorang pengemis di jalanan. Kamu akan peka untuk mendeskripsikan peristiwa tersebut. Siapa dia? Mengapa dia mengemis? Dari mana asalnya? Dapat dideskripsikan secara panjang lebar bukan? Atau bisa dibuat berita. Di sana juga kamu bisa mengemukakan pendapat menurut sudut pandang sendiri atas peristiwa yang dilihat. Bahkan, kamu bisa memberikan solusi atas kejadian tersebut. Bagaimana agar dia tidak mengemis. Di sisi lain, hatimu juga akan tergerak untuk melakukan sesuatu yang lebih nyata. 

Penulis adalah pembaca yang baik. Mustahil kamu akan bisa menulis jika kamu tidak membaca. Penulis itu adalah seseorang yang kaya wawasan, pengetahuan, makanya mereka dapat menulis untuk merubah dunia melalui tulisannya.
Hal-hal di atas mendorong saya untuk menjadi penulis. Semangat saya berkobar bagai api yang menyala-nyala ketika diperkenalkan dengan grup KMO ini. Tentunya atas izin Allah SWT semuanya kita dipertemukan, meski tidak tatap muka secara langsung. Tetapi KMO ini bagaikan sekolah di mana saya mendapat banyak ilmu di dalamnya.

Kita semua mempunyai mimpi yang sama, adalah mimpi menjadi penulis. Misi kita pun sama. Masuk ke KMO karena haus akan ilmu kepenulisan. Yang berbeda adalah tingkat semangat masing-masing individu. Luar biasanya, saya melihat diri saya sebagai bagian yang sangat kecil. Semangat teman-teman lebih besar bila dibanding saya. Justru di situ, di sanalah kita semua saling menyemangati dan mengingatkan. menularkan semangatnya kepada yang lain. Agar sama-sama bisa bertahan sampai kelas ini berakhir.

Dengan semangat tersebut, saya bertekad. Minimal satu buku sebelum mati. Mutlak! Karena ingin meninggalkan jejak di dunia. Karena jika saya mati, maka saya akan dilupakan. Tetapi saya akan tetap hidup dalam tulisan. Menginspirasi dan bermanfaat bagi banyak orang saya rasa bukan impian saya saja. Tetapi jutaan orang yang hidup di dunia juga memiliki impian yang sama. Saya ingin menulis karena saya merasa bodoh. Untuk itu saya harus belajar agar bisa menjadi pintar, baru dapat bermanfaat dan menginspirasi orang banyak.
Menulis itu seperti traveling. Kita dapat pergi kemana saja yang kita suka. Menyusuri jalan dan seisi dunia melalui pikiran kita. Penulis, kurang apa lagi coba?

Dulu, saya pernah merasa takut untuk menulis. Karena takut tulisan saya malah menyesatkan orang banyak dan imbasnya adalah ganjaran yang akan didapat. Sungguh mengerikan! Mengingat akan pertanggung jawabannya nanti di akhirat. Tetapi rasa takut itu kini telah sirna. Semakin keras belajar saya menjadi semakin merasa bodoh. Karena saya menyadari begitu banyak yang tidak saya ketahui. Karena merasa bodohlah maka saya ingin menulis sesuatu agar saya tidak pernah lelah untuk belajar dan mencoba. Dengan begitu, tulisan tersebut akan menjadi pengingat dan pemicu semangat di kala saya mulai lelah untuk belajar dan berbagi kepada dunia.
Dulu, saya juga takut menulis. Karena takut jika tulisan saya hanya akan menjadi sampah tanpa ada nilai kebaikan dan manfaat yang bisa diambil orang banyak. Setelah berkomitmen untuk serius dengan dunia menulis ini, saya bahkan mempunyai pikiran bahwa yang akan menjadi sampah adalah orang-orang penakut dan membiarkan tulisannya begitu saja tanpa berani mencoba merubah dunia. 

Maka MENULISLAH untuk menjadi seorang PENULIS!  

Tulisan singkat ini semoga bisa selalu mengingatkan saya dan juga teman-teman lain yang serupa ingin menjadi penulis seperti saya. Semoga ALLAH SWT memberikan kelancaran bagi kita semua. Dan segera mengabulkan impian kita untuk menjadi penulis yang sesungguhnya. Aamiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar