DORAEMON

Tampilkan postingan dengan label Kumcer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumcer. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Maret 2016

SEPUCUK SURAT UNTUK SAHABAT




Kamu tidak pernah benar-benar bisa mengerti perasaan sesesorang, kecuali kamu benar-benar menjadi dirinya.
Karena kamu tidak bisa mengerti perasaan orang dengan pasti, setidaknya jangan paksa orang untuk mengerti perasaan kamu.

Teruntuk sahabat terkasihku. Di mana pun atau sedang apa pun kamu sekarang. 

Jauh di masa lampau, aku mengenalmu begitu besar, bahkan bersinar. Nyaliku menciut sebesar debu di pelupuk mata. Rasanya dapat sekadar berteman saja, mungkin sebuah keajaiban. Ah! Mustahil. Tapi aku belum mengenal siapa-siapa di dunia baru-ku saat itu. Kupikir kamu bisa membantu. Berharap kamu mau menerima jabat tanganku yang berdebu ini.
Aku bahagia. Karena kamu tidak seangkuh yang lain. Ramah, baik, mampu menerima aku –yang rasanya tak sepadan jika harus berteman- yang banyak tak tahu ini. Kekaguman bahkan memuncak. Dan aaku yakin bahwa mimpi-mimpi yang kugantungkan bisa tercapai. Ya! Allah mengirimkan kamu, teman baik sebagai jalan membantuku belajar bagaimana meraih impian.
Semakin lama berteman, rasanya kekaguman ini semakin bertambah. Kamu seperti bola dunia. Ah, bukan! Kantong ajaib? Ah entahlah. Aku selalu menemukan jawaban-jawaban ada padamu. Karena mengapa, kau adalah orang pertama yang tahu kabar gembira yang kubawa. Dan kau juga adalah orang pertama yang tahu kabar dukaku. Menarik. Aku bersyukur kita bisa saling diperkenalkan oleh takdirnya Allah.
Untuk beberapa waktu yang lama, mungkin kamu bosan. Kamu menghilang. Menelisik lebih dalam. Rasanya sakit setelah kehilangan. Ya! Aku telah bergantung kepadamu untuk banyak hal. Dan di masa-masa sulit itu, aku rasa impianku akan hancur. Tepat dalam kepalan tanganku sendiri.
Beberapa masa datang, memberi sedikit cerah untuk jiwa yang gelap, untuk beberapa waktu. Kau kembali datang. Bahagia. Tentu saja! Mimpi itu kugenggam dan kusempurnakan kembali. Jangan dilihat dari dekat. Karena ini retak dan rapuh, rupanya sudah berkeping karena dulu kuhancurkan. Tapi ini luar biasa. Bahkan aku lebih percaya mimpi itu akan jadi nyata setelah kamu berjanji akan terus bersamaku untuk mendampingi sampai aku benar-benar bisa mewujudkannya.
Dugaanku salah. Janji hanya sekadar janji. Rupanya ada sesuatu yang kau cari. Ya! Tempat di mana kau mampu berkeluh kesah. Bagiku tak masalah. Aku justru senang, jika kau mau sedikit terbuka. Bukan aku yang meminta.
Keadaan berubah. Kau bukan lagi seoarang motivator hebat, bukan seorang bola dunia atau bahkan kantong ajaib yang biasanya bisa kutemukan segala jawaban dari masalah kehidupan. Aku hanya mengenalmu sebagai seorang teman biasa. Ah bukan. Bahkan lebih parah dari itu. Kau datang hanya karena jika kamu butuh sandaran. Tetapi kau tak ada ketika aku yang membutuhkan (Motivasi dan kata-kata bijakmu yang dulu selalu aku rindukan).
Kau tahu rasanya seperti apa? Sakit! Baiklah aku mengerti kesibukanmua. Tetapi kamu tidak pernah mengerti juga kesibukanku, kan? Bagiku, duniamu, duniaku. Duniaku bukan duniamu. Bagimu, duniamu jadi duniaku (jika waktu tepat). Sedang duniaku kau mainkan sesuka hati menjadi duniamu. Lagi-lagi bukan masalah, bagiku. Kau tahu mengapa? Ada rasa nyaman yang kau ciptakan.
Aku lelah sebenarnya. Kamu selalu memaksa aku untuk mengerti. Tetapi tidak pernah sedikit pun kamu mau mengerti. Aku lelah menjaga perasaanmu, sedang perasaanku tak pernah kau jaga. Aku lelah berhati-hati di kala bicara. Sebab engkau yang sekarang adalah berbeda. Lebih sering marah, dan mudah ‘meledak’. Sedang apa pun yang kau bicarakan –tak peduli itu membuatku terluka- adalah kebenaran yang mutlak. Sesekali aku berontak. Hal hasilnya? Kamu marah dan pergi begitu saja.
Sahabat. Jangan khawatir. Karena kini aku gantungkan impian itu kepada sang pemilik takdir. Bukan berarti takdir Allah itu salah. Soal perkenalan kita. Biar itu menjadi cerita. Aku banyak mendapat ilmu darimu, terutama soal keikhlasan.
Untuk perasaan nyaman, bukan masalah. Setelah kepergianmu, aku selalu merasa nyaman dengan cahaya terang yang sebetulnya selalu dekat denganku. Cahaya kasih sayang Allah yang kini selalu menjadi tempat peraduan. Karena aku tahu Allah takkan pernah meninggalkan. Sepertimu.
Sahabat. Semoga kamu selalu bahagia. Mungkin di suatu saat, aku akan merindukanmu lagi.

Rabu, 30 Maret 2016

Puisi bertema Ibu.

Ibu. Siapa yang dapat menyangkal? Jika salah satu kata paling magis ini adalah sumber dari segala ide brilian. Tidak akan ada habisnya mengupas tuntas makna dari kata 'Ibu'. Setiap orang akan mengekpresikan hatinya menjadi apa pun ketika mendengar kata ini.
Setuju?
Berikut salah satu ekspresi saya tentang sebuah kata yang magis itu. Kata sederhana yang terangkai menjadi sebuah puisi bermakna dalam. Puisi Ibu, yang terinspirasi dari Ibu dan untuk Ibu. Mama, Umi, Ambu. Apa pun panggilannya. ^_^


Mama, Perigi Kasihku Oleh : RM

Tiada kata yang mampu melukiskan
Sosok terhebat yang telah Allah berikan
Syukurku tak beranjak enyah
Milikimu kuatkan diri yang lemah
Pada seruan yang kuhiraukan
Pada nada yang terlampaui keras melebihimu
Pada kata 'ah' yang sering terlontar
Pada muka masam yang sering kupasang
Kutahu luka yang kau dapatkan

Mama ...
Lirihku terdengar di kala lelah
Namun lelahmu kau sembunyikan
Kasihku terhitung hanya sebatas waktu yang kulalui
Sedang engkau perigi kasih yang tak pernah usai

Mama ...
Doamu mengawal setiap langkah
Kasihmu menyelimuti jiwa
Di balik segala kemudahanku
Ada doamu yang terkabulkan
Hanya melalui aksara ini kusampaikan
Berjuta sayang terselip pada setiap bait
Bagiku kau adalah segala keindahan
Mama ... Kupanggil dia Mama

Rabu, 13 Januari 2016

PUISIKU - PENYESALAN



SESAL

 Oleh  : Rosyidatul Munawaroh
 


Rindu berdesakan di relung hati

Sedih, tangis, pilu menyeruak di dalam jiwa

Bayangnya yang dulu kutinggalkan

Kala batas senja lunglai menjelang

Deruan ombak hanya sebatas senyap

Dan saat langit-langit meringis, kala satu bayangnya menghilang.



Sesal, atas kata yang tak pernah terucap

Menjadi mimpi buruk dalam malam-malam yang pekat

Pun rasa yang masih melekat kuat

Tapi kuncup bunga yang tak pernah merekah

Bagaimana kau tahu dalamnya? Begitulah.



Berjuta kata ingin kuucap, beribu maaf ingin kusampaikan

Ikhlaslah aku jika mungkin kini kau membenci

Setimpal dengan goresan luka yang terbelalak karena belati kata yang kusayatkan.



Namun sesal menyesakkan

Bahkan wangimu saja kini hanya mampu kucium

Dari balik kerudung wanita di sampingmu

Merengkuh bayangmu saja, kini bagai kudekap angin

Terasa sesaat kemudian hilang

Sesal